Short Story About Devita Rhm
Terimakasih

Terimakasih ya kepada seluruh panitia PHAMOPDB 2014 dan seluruh manusia di muka bumi ini yang sudah membantu acara ini yang telah berjalan dengan teramat sangat baik. Mohon maafkan segala kesalahan perkataan maupun perbuatan yang kurang berkenan. Sukses untuk kita semua,ya. Semoga semya bermanfaat. Terimakasih ya!

Ramadhan Kareem

I’m welcoming Ramadhan with Happiness! Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga dalam 30 hari kita berpuasa diberi kelancaran oleh Allah swt. Mohon maaf lahir dan batin, semuanya!:)) xx

Jangan mengandalkan peruntungan. Kalau hari ini tidak beruntung, besok mungkin juga tidak beruntung. Hasil itu setara usaha. Kebetulanpun sama jarangnya.
Ibu Saya (via palawija)
Ada waktu di mana Saya ingin sekali banyak membahagiakan orang lain. Tapi, ada pula waktu di mana Saya merasa, membahagiakan diri sendiri juga nggak kalah penting.
(via palawija)
Ditampar dulu baru kapok. Itulah Saya. Atau kita?
(via palawija)
palawija:

Lengan kanan Ibu adalah guling istirahat saya ketika kecil. Ibu bernyanyi tanpa sumbang untuk mengantar anak yang penakut ini tidur. Sukar, nyaris mustahil bila ada niatan mencari sentuh selembutnya, suara seindahnya dan air mata yang mampu memantik cemas. Beliau teristimewa.

Suara pelan ditiap obrolannya dengan Tuhan adalah lampu kuning bagi saya agar jangan mengecewakan. Wajar dan tentu sesekali suara keras jadi wajah peringatan bila ada kesalahan. Semua demi kebaikan dan jamin selamat buah hatinya yang tumbuh kini lebih besar. Beliau terutama.

Senyum bila mendapati di layar telepon genggam ada namanya diiring dering. Saya rindu. Berdebar bila dering itu tiba dikala sadar salah, dipikul anaknya yang kini sudah mau tak mau harus dewasa. Beliau tercinta.

Halo Ibu, terima kasih ya. Bukan sekedar saya tidak terlahir tanpa perjuanganmu sebelumnya. Tapi lebih kepada sabarnya hati dan tidak putusnya doa untuk anak kecilmu yang kini sudah jauh lebih berani.

Saya sayang sekali. Saya yakin Ibu pasti rasa. Semoga beliau berbahagia selamanya.

palawija:

Lengan kanan Ibu adalah guling istirahat saya ketika kecil. Ibu bernyanyi tanpa sumbang untuk mengantar anak yang penakut ini tidur. Sukar, nyaris mustahil bila ada niatan mencari sentuh selembutnya, suara seindahnya dan air mata yang mampu memantik cemas. Beliau teristimewa.

Suara pelan ditiap obrolannya dengan Tuhan adalah lampu kuning bagi saya agar jangan mengecewakan. Wajar dan tentu sesekali suara keras jadi wajah peringatan bila ada kesalahan. Semua demi kebaikan dan jamin selamat buah hatinya yang tumbuh kini lebih besar. Beliau terutama.

Senyum bila mendapati di layar telepon genggam ada namanya diiring dering. Saya rindu. Berdebar bila dering itu tiba dikala sadar salah, dipikul anaknya yang kini sudah mau tak mau harus dewasa. Beliau tercinta.

Halo Ibu, terima kasih ya. Bukan sekedar saya tidak terlahir tanpa perjuanganmu sebelumnya. Tapi lebih kepada sabarnya hati dan tidak putusnya doa untuk anak kecilmu yang kini sudah jauh lebih berani.

Saya sayang sekali. Saya yakin Ibu pasti rasa. Semoga beliau berbahagia selamanya.

palawija:

Konser Diorama. Jangan bayangkan besarnya energi yang kami terima, kami tidak mau membuat kalian terkejut. Untuk kesekian kalinya, terima kasih banyak. Kalian membuat kami lupa akan seramnya lelah. Kini kita di serambi, untuk lalu berjalan menuju ruang tengah.

palawija:

Konser Diorama. Jangan bayangkan besarnya energi yang kami terima, kami tidak mau membuat kalian terkejut. Untuk kesekian kalinya, terima kasih banyak. Kalian membuat kami lupa akan seramnya lelah. Kini kita di serambi, untuk lalu berjalan menuju ruang tengah.

Selain tumbuh, makan, ekskresi, beradaptasi, bernapas dan berkembang. Ciri makhluk hidup yang lainnya adalah, gengsian!

(via palawija)

Prismatic World Tour in Glasgow, Scotland - 05.17

Prismatic World Tour in Glasgow, Scotland - 05.17